Awalnya saya belum terlalu paham tentang SM3T. Padahal sebenarnya SM3T ini saya dengar di tahun 2011 tetapi masih ragu dan tidak tahu apa, kemana arah dan apa tujuan akhirnya. Pada waktu itu penempatan hanya 3 daerah (Papua, Nusa Tenggara dan Aceh), jadi orang tua tidak mengizinkan ikut.

Berkat dorongan dari seorang Dosen saya sewaktu kuliah akhirnya saya mencoba mendaftar lewat Hp (Pendaftaran On Line). Sebenarnya orang tua dan keluarga besar saya berat hati karena waktu itu saya sudah bekerja di sebuah Bank. Kata mereka "Buat apa lagi ikut itu, toh kamu sudah punya kerjaan dan punya penghasilan. Apa lagi yang kamu cari Nak,,???" Tetapi di hati kecil saya terus mendorong saya untuk ikut program ini. Alhasil, Alhamdulillah mereka pun mengizinkan dengan segala cara dan upaya dalam meyakinkan mereka.

Menurut beberapa teman yang sudah lebih dahulu mendaftar (Kabar Burunglah), SM3T ini merupakan langkah awal menuju CPNS bahkan bisa jadi PNS. Siapa yang tidak mau coba, dan itu juga salah satu dari beberapa  tujuan saya ikut SM3T ini. Memang berat ketika tahu bahwa SM3T ini harus mengabdi di daerah 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal) yang secara otomatis harus merantau lebih jauh lagi. Setelah melewati beberapa tahap pendaftaran dan seleksi, akhirnya keluar juga pengumumannya dan Alhamdulillah saya LULUS.

Sebelum menuju daerah sasaran, saya mengikuti Prakondisi dimana kami dibekali banyak ilmu. Mulai dari sini saya mendapatkan teman yang memiliki  banyak perbedaan. Pada waktu Prakondisi ini saya tahu bahwa saya ditempatkan di SD GMIST Patmos Laingpatehi, Kec. Tagulandang Kab. Siau Tagulandang Biaro, Sulawesi Utara. Sungguh mengangetkan dan tak terpikirkan sebelumnya. Tepatnya tanggal 14 Oktober 2012 saya menuju daerah sasaran saya. Waoooooow aneh tapi nyata. Medan yang dilalui sangat menantang. Setelah menumpang kapal laut ternyata masih harus menaiki perahu yang ukurannya lumayan kecil. Karena saya sangat takut dengan air jadi di awal perjalanan saya hanya diam di atas perahu sambil berdoa dan pasrah kepada Allah swt.

Daerah sasaran saya merupakan sebuah Pulau kecil yang hanya di huni 2 buah desa (sekitar 150 rumah). Dan di Pulau ini juga terdapat sebuah Gunung Api yang masih aktif disebut Gunung Ruang, makanya Pulau itu disebut Pulau Ruang. Di sini saya tinggal bersama dengan Ibu Kepala Sekolah SD GMIST Patmos Laingpatehi. Rumahnya bagus, tapi sayang sumber air bersih tidak ada (hanya mengharap air hujan), listrik hanya 4 jam (pada malam hari) dan jaringan komunikasi (sinyal) juga tidak ada (adanya di pinggir laut J). Letak sekolah dengan rumah sangat dekat jadi waktu yang dibutuhkan menuju sekolah tidak lama. Guru dan murid sangat ramah dengan kedatanganku. Walaupun dari segi logat bahasaku dengan bahasa mereka yang berbeda tetapi menurut saya ini tantangan aku supaya bisa berkomunikasi dengan mereka (sambil belajar atau sambil menyelam minum air). Anak muridnya memang nakal yang luar biasaaaaaaaaaa, tapi saya bisa menghadapi mereka dengan cara yang lembut (sekali-kali jadi teman mereka).

Dari segi masyarakat di sini semuanya ramah dan menghargai saya sebagai seorang muslim. Hanya saja banyak warga yang belum kenal dengan SM3T ini, sehingga mereka menganggap kalau saya ini mahasiswa PPL (kelihatan muda kan). Hal ini sebenarnya terjadi karena sebelumnya tidak ada sosialisasi dari Dinas atau Pihak Desa setempat kepada Masyarakat. Karena di desa ini 100% beragama Kristen Protestan, jadi saya juga menghargai mereka. Walaupun ini kali pertama saya bergaul dengan orang yang mayoritas berbeda agama dengan saya tapi ini bukan penghalang bagi saya untuk bersosialisasi dengan mereka.

Selama saya berada disini, banyak sekali hal yang saya peroleh. Bukan hanya dari segi ilmu pendidikan, tetapi dalam hal pengalaman bersosialisasi dengan masyarakat, adat istiadat, bahasa, tata cara beribadah agama mereka, tradisi mereka. Dalam hati saya berkata “Memang benar kalau Indonesia itu Beragam dalam Semua Hal”. Di sinilah aku mengerti dan mengenal arti kehidupan yang sesungguhnya. Jauh dari keramaian, tidak ada fasilitas yang sering kita perolah ketika berada di kota. Bagaimana mendidik yang baik, arti kesabaran dan tidak mementingkan ego masing-masing. Semua didapatkan dengan mengikuti SM3T ini.

Bagi saya, gak rugi dan gak menyesal ikut SM3T ini. Walaupun harus merantau jauh tetapi dengan berbagai cara kita bisa berkomunikasi dengan keluarga kita yang jauh. Bukan jarak yang jadi penghalang, hanya komunikasi yang bisa mendekatkan kita dengan mereka.

Tau gak,,,,????????? Dengan ikut ini kita bisa mendapatkan keluarga baru, teman baru, sahabat baru, ilmu baru, dan tentunya pengalaman baru. Jangan takut,, keluarga baru di tempat pengabdian juga sayang dan peduli kok sama kita. Memang gak seperti orang tua kita sendiri tapi selagi kita ramah, sopan dan baik sama mereka saya yakin mereka akan lebih dari itu kepada kita. Satu lagi, setelah pengabdian ini kita akan lanjut PPG loh selama 1 tahun. Jadi kita akan menambah ilmu kita lebih banyak lagi. Pokoknya menyenangkan ko SM3T ini.

The end,,,,saya ucapkan terima kasih SM3T…!!! saya mendapatkan banyak pengalaman, Persahabatan, dan Persaudaraan. Kalau masalah cinta ditunda dulu (ingat ada kontrak).

Semoga dengan adanya saya di sini sebagai pendidik untuk siswa dan teman untuk guru dan masyarakat. Bisa menciptakan anak didik yang berkompeten, berbudi luhur, memiliki sopan santun dan terus berprestasi. Semangat terus dalam berjuang dan berprestasi!! Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia.

Salam SM3T……..

                                                     Hasrianti, S.Pd