Namaku Irwan Walela murid kelas 5. Rumahku di Wosi, beberapa Km dari SD Inpres Isaima. Meskipun di Wosi ada sekolah tapi tak ada guru yang mengajar dan kami sering hanya letih ke sekolah, sia-sia perjungan kami.

Kini sekolahku semakin jauh, sudah 3 tahun aku menjadi murid di sini. Aku tetap rela berjalan pagi-pagi sekali dan saat panas matahari membuatku berkeringat, bahkan aku sudah kebal dengan dingin aspal pagi dan menahan panas kulit-kulit kakiku yang menempuh jarak berkilo-kilo demi masa depan.

Siang itu, mobil berhenti di depan sekolah. Dua orang keluar dengan beberapa tas besar, aku dan teman-teman berlari menghampiri pak guru yang menyuruh membantu mereka.

Betapa senangnya aku, ternyata yang pak guru katakan kemarin bukanlah bohong. Kini kami punya ibu guru baru, datang dari jauh melewati laut dan pulau-pulau hanya untuk kami, begitu kata pak guru.

Ibu guru berkulit putih, berbeda sekali denganku. Ku dengarkan baik-baik perkenalan singkat siang itu. Aku dan teman-teman berbaris di halaman, suara ibu guru semangat sekali, senyumnya membuatku tertunduk malu, sepatunya yang bersih dan rapi sontak membuatku tertunduk lagi menatap kakiku dan semakin malu. Aku melamun, tersentak ketika ibu guru menegurku. Ibu guru bilang kami harus jadi pemberani, pemberani tidak malu, tidak menunduk dan semangat. Siang itu ibu guru mengajari kami yel-yel penyemangat. Aku senang.

***
Semakin hari terasa menyenangkan. Ibu guru punya banyak cara mengajar kami, bernyanyi di sela-sela pelajaran, menjelaskan berulang-ulang dengan sabar. Yang paling aku suka menggambar, pelajaran olahraga dan bahasa inggris.

Ibu guru sering bilang aku pandai jadi harus sering belajar agar lebih mengenal dunia. Aku tak mengerti maksudnya, sepulang sekolah saat ibu memintaku membantu mengantarkan buku bacaan ke kantor aku bertanya. Ibu tak menjawab banyak, malah bercanda. Esoknya ibu ubah kelas jadi kelas bercerita, kami tak belajar Matematika atau bagaimana sinar matahari membuat tumbuhan berfotosintesis. Kelas bebas, begitu kata ibu guru sambil menyuruh kami memasukkan kembali buku dan pulpen ke dalam tas anyaman kami.

Hari itu teman-teman menangis, aku juga. Aku tak tau apakah ibu menipu kami, tapi ceritanya membuatku sadar. Betapa beruntungnya kami, aku berjanji akan belajar sungguh-sungguh, aku berjanji akan buat Mama dan Bapak senang.

"Percuma ibu guru jadi orang yang cerewet, menyuruh ini dan itu, baca lagi baca lagi, hitung lagi hitung lagi, sebulan sampai setahun dan akan pergi, tidak akan ada gunanya jika bukan karena kalian sendiri."

Kata-kata ibu guru membuatku terus berpikir. Benar saja, akan sia-sia aku berjalan jauh jika hanya terus begini. Meski ibu guru sering memujiku tapi aku tetap merasa malu.

Pulang sekolah sejak dua minggu kehadiran ibu guru. Ini pertama kalinya aku berbicara banyak dengan tenang, ibu guru menatapku sambil tersenyum, sesekali bertanya sesuatu yang sedikit sulit ku jawab jujur.

Ibu guru terima kasih, aku akan mencoba lebih keras lagi, bukankan aku bilang ingin menjadi Pilot. Ibu guru ingatkan saat hari pertama di kelas, ibu guru menanyakan cita-cita kami.

***
Pagi tadi ibu guru bersuara lebih keras dari biasanya.
Apa ibu guru marah? Suaranya sedikit bergetar meskipun dia tersenyum, tapi kurasa itu hanya tipuan. Ibu bilang dia bosan dengan caranya mengajar kami padahal begini saja aku sudah senang. Ibu guru bilang tak ingin memanjakan kami lagi, cukup sebulan, aku dan teman-teman saling melirik. Seorang teman berbahas daerah membuat ibu guru terdiam, berbalik arah dan duduk diam di kursi.

Tak lama ibu guru terdiam. Ibu guru berdiri dan menyuruh kami ini dan itu membanyumya. Kelas berubah, kini suasana baru, peraturan kelas di ubah, ada perpustakaan khusus di dalam kelas, dan ada meja-meja untuk pra karya, besok kami akan membuat mading. Aku lebih suka begini.

Ibu guru bilang kami harus banyak membaca agar lebih tau banyak. Kami harus lancar membaca agar ibu guru lebih mudah mengajar, kami harus membiasakan berbahas Indonesia. Kata ibu lagi, semua bertanggung jawab akan kelas dan isinya.

Ah, ibu guru membuatku samakin senang dan semangat, sore ini aku bawakan beliau sayuran sebagai ucapan terima kasih. Semoga ibu guru suka, karena ku tahu, ibu guru dulu tak memakan sayuran yang sejenis. Ibu guru, terima kasih. Aku berjanji akan menjadi anak pintar, ibu guru dan teman-temanlah saksinya.

Namaku Irwan Walela murid kelas 5. Rumahku di Wosi, beberapa Km dari SD Inpres Isaima. Meskipun di Wosi ada sekolah tapi tak ada guru yang mengajar dan kami sering hanya letih ke sekolah, sia-sia perjungan kami.

Kini sekolahku semakin jauh, sudah 3 tahun aku menjadi murid di sini. Aku tetap rela berjalan pagi-pagi sekali dan saat panas matahari membuatku berkeringat, bahkan aku sudah kebal dengan dingin aspal pagi dan menahan panas kulit-kulit kakiku yang menempuh jarak berkilo-kilo demi masa depan.

Siang itu, mobil berhenti di depan sekolah. Dua orang keluar dengan beberapa tas besar, aku dan teman-teman berlari menghampiri pak guru yang menyuruh membantu mereka.

Betapa senangnya aku, ternyata yang pak guru katakan kemarin bukanlah bohong. Kini kami punya ibu guru baru, datang dari jauh melewati laut dan pulau-pulau hanya untuk kami, begitu kata pak guru.

Ibu guru berkulit putih, berbeda sekali denganku. Ku dengarkan baik-baik perkenalan singkat siang itu. Aku dan teman-teman berbaris di halaman, suara ibu guru semangat sekali, senyumnya membuatku tertunduk malu, sepatunya yang bersih dan rapi sontak membuatku tertunduk lagi menatap kakiku dan semakin malu. Aku melamun, tersentak ketika ibu guru menegurku. Ibu guru bilang kami harus jadi pemberani, pemberani tidak malu, tidak menunduk dan semangat. Siang itu ibu guru mengajari kami yel-yel penyemangat. Aku senang.

***
Semakin hari terasa menyenangkan. Ibu guru punya banyak cara mengajar kami, bernyanyi di sela-sela pelajaran, menjelaskan berulang-ulang dengan sabar. Yang paling aku suka menggambar, pelajaran olahraga dan bahasa inggris.

Ibu guru sering bilang aku pandai jadi harus sering belajar agar lebih mengenal dunia. Aku tak mengerti maksudnya, sepulang sekolah saat ibu memintaku membantu mengantarkan buku bacaan ke kantor aku bertanya. Ibu tak menjawab banyak, malah bercanda. Esoknya ibu ubah kelas jadi kelas bercerita, kami tak belajar Matematika atau bagaimana sinar matahari membuat tumbuhan berfotosintesis. Kelas bebas, begitu kata ibu guru sambil menyuruh kami memasukkan kembali buku dan pulpen ke dalam tas anyaman kami.

Hari itu teman-teman menangis, aku juga. Aku tak tau apakah ibu menipu kami, tapi ceritanya membuatku sadar. Betapa beruntungnya kami, aku berjanji akan belajar sungguh-sungguh, aku berjanji akan buat Mama dan Bapak senang.

"Percuma ibu guru jadi orang yang cerewet, menyuruh ini dan itu, baca lagi baca lagi, hitung lagi hitung lagi, sebulan sampai setahun dan akan pergi, tidak akan ada gunanya jika bukan karena kalian sendiri." 

Kata-kata ibu guru  membuatku terus berpikir. Benar saja, akan sia-sia aku berjalan jauh jika hanya terus begini. Meski ibu guru sering memujiku tapi aku tetap merasa malu. 

Pulang sekolah sejak dua minggu kehadiran ibu guru. Ini pertama kalinya aku berbicara banyak dengan tenang, ibu guru menatapku sambil tersenyum, sesekali bertanya sesuatu yang sedikit sulit ku jawab jujur. 

Ibu guru terima kasih, aku akan mencoba lebih keras lagi, bukankan aku bilang ingin menjadi Pilot. Ibu guru ingatkan saat hari pertama di kelas, ibu guru menanyakan cita-cita kami.

***
Pagi tadi ibu guru bersuara lebih keras dari biasanya.
Apa ibu guru marah? Suaranya sedikit bergetar meskipun dia tersenyum, tapi kurasa itu hanya tipuan. Ibu bilang dia bosan dengan caranya mengajar kami padahal begini saja aku sudah senang. Ibu guru bilang tak ingin memanjakan kami lagi, cukup sebulan, aku dan teman-teman saling melirik. Seorang teman berbahas daerah membuat ibu guru terdiam, berbalik arah dan duduk diam di kursi.

Tak lama ibu guru terdiam. Ibu guru berdiri dan menyuruh kami ini dan itu membanyumya. Kelas berubah, kini suasana baru, peraturan kelas di ubah, ada perpustakaan khusus di dalam kelas, dan ada meja-meja untuk pra karya, besok kami akan membuat mading. Aku lebih suka begini.

Ibu guru bilang kami harus banyak membaca agar lebih tau banyak. Kami harus lancar membaca agar ibu guru lebih mudah mengajar, kami harus membiasakan berbahas Indonesia. Kata ibu lagi, semua bertanggung jawab akan kelas dan isinya.

Ah, ibu guru membuatku samakin senang dan semangat, sore ini aku bawakan beliau sayuran sebagai ucapan terima kasih. Semoga ibu guru suka, karena ku tahu, ibu guru dulu tak memakan sayuran yang sejenis. Ibu guru, terima kasih. Aku berjanji akan menjadi anak pintar, ibu guru dan teman-temanlah saksinya.